BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Pendidikan
adalah hal penting yang harus dimiliki oleh setiap anak bangsa karena dengan
adanya pendidikan yang berkualitas, maka suatu bangsa menjadi maju dan
sejahtera. Proses pembelajaran disekolah khususnya untuk di wilayah Indonesia
sudah berjalan sebagaimana mestinya. Berhasilnya proses pembelajaran disekolah
membuat banyaknya lulusan-lulusan akademik yang berkualitas yang dapat
diandalkan di lingkungan masyarakat.
Upaya
keberhasilan tersebut tidak terlepas dari peran lingkungan sosial sebagai
lingkungan hidup sehari-hari seorang siswa. Sebagai mahkluk sosial, manusia
memang tidak bisa lepas dari pengaruh lingkungan sosial baik itu disadari
maupun secara tidak sengaja, lingkungan sosial merupakan faktor utama yang
memotivasi seseorang untuk melakukan sesuatu. Tidak terlepas dari hal tersebut,
pengaruh lingkungan sosial begitu kuat dalam menumbuhkan motivasi siswa dalam
pembelajaran disekolah.
Berbagai
permasalahan mengenai pengaruh lingkungan sosial terhadap motivasi belajar
siswa terhadap mata pelajaran IPS Geografi
bisa mengubah pola pikir seorang siswa tentang mata pelajaran tersebut
sehingga motivasi belajar siswa berkurang. Hal ini menyebabkan banyak siswa
yang selalu meremehkan mata pelajaran Geografi. Berbagai faktor lainnya seperti
faktor lingkungan kelas juga mempengaruhi motivasi siswa dalam pembelajaran IPS
Geografi, sebagai contoh guru bidang studi mata pelajaran terkait cara
mengajarnya apakah dapat menarik perhatian siswa atau malah menjadi pelajaran
yang membosankan. Hal itu juga dapat mengurangi semangat siswa dalam mengikuti
pembelajaran dikelas. Selain kedua faktor tadi, ada faktor lainnya yang turut
mempengaruhi motivasi siswa dalam pembelajaran Geografi, seperti halnya ajakan
teman sekelas untuk membolos saat mata pelajaran Geografi sedang berlangsung.
Secara kajian
empirik, SMA Negeri 2 Palu terdapat berbagai permasalahan seperti beberapa
siswa yang kedapatan membolos saat jam belajar, siswa yang bolos dalam arti
siswa tersebut keluar kelas sebentar hanya untuk menghilangkan kejenuhan dalam
kelas, sesudah itu siswa yang bersangkutan masuk kembali mengikuti pelajaran.
Peneliti sempat mewawancarai salah seorang guru geografi yang namanya Fitri
Handayani beliau berkata masalah- masalah yang sering terjadi pada siswanya
adalah seringnya terlambat masuk bila mata pelajaran geografi masuk pada jam
pertama ( pagi hari ) dengan berbagai alasan yang tidak jelas dari siswanya.
Namun ketika siswanya mengikuti pelajaran, mereka sangat antusias sekali.
Masalah lainnya adalah ketika memasuki jam- jam akhir, beliau berkata juga
bahwa ketika memasuki jam akhir saat mata pelajaran geografi atau mata
pelajaran lainnya kebanyakan siswa izin keluar kelas untuk merilekskan pikiran
namun setelah itu siswa kembali ke kelas. Ada juga siswa yang saat jam siang
terlambat masuk kelas ketika pelajaran sudah dimulai yang dikarenakan waktu
siswa terpotong pada saat jam Shalat atau siswanya terlalu lama di kantin
sekolah, namun untuk sengaja membolos beliau bertutur hal itu jarang terjadi.
Hasil belajar siswapun terbilang lumayan bagus.
Penelitian
serupa yang telah dilakukan di SMP di RW 6 Bamba Kelurahan Panau Kecamatan
Palu Utara oleh Marlina Mohammad, S.Pd
dengan judul : Pengaruh Lingkungan Sosial terhadap minat belajar siswa SMP di
RW 6 Bamba Kelurahan Panau Kecamatan Palu Utara, hasil penelitiannya menunjukan
bahwa lingkungan sosial dalam hal ini adalah lingkungan keluarga sangat
mempengauhi terhadap minat belajar siswa SMP di RW 6 Bamba. Dijelaskan dalam penelitian
ini lingkungan sosial memberikan pengaruh yang positif dan negatif terhadap
minat belajar anak. Namun dalam
penelitian ini hanya menjelaskan tentang pengaruh lingkungan sosial dalam segi
lingkungan keluarga terhadap minat belajar, belum menjelaskan tentang bagaimana
pengaruh lingkungan sekolah terhadap motivasi belajar, bukan hanya minat
sehingga peneliti ingin melanjutkan penelitian ini dengan mengambil judul yang
serupa namun berbeda kajiannya.
Ni Made
Kariasih, dalam penelitiannya yang berjudul pengaruh kehadiran siswa dalam
kelas terhadap prestasi belajar PKn di SMP 6 Katolik Santo Paulus Palu, dalam
penelitiannya dijelaskan mengenai kehadiran siswa dalam kelas memberikan dampak
positif terhadap prestasi belajar siswa, sedangkan ketidakhadiran siswa dalam
kelas memberikan dampak yang negatif sehingga memungkinkan terjadi penurunan
presatsi siswa. Dijelaskan dalam penelitiannya juga bahwa perlu adanya upaya
dari guru untuk meminimalisir jumlah ketidakhadiran siswa dalam kelas seperti
memberikan teguran, memberikan bimbingan dan pembinaan kepada siswa dan
memberikan hukuman sesuai aturan-aturan yang berlaku. Namun dalam penelitian
ini ada aspek yang belum dikaji yaitu 1).bagaimana peranan guru dalam
menciptakan suasana belajar yang kondusif didalam kelas sehingga dapat menekan
jumlah ketidakhadiran siswa dalam pembelajaran 2). Apakah prestasi siswa hanya
ditentukan dengan melihat persentase kehadiran? Atau apakah ada faktor lainnya
yang dapat mempengaruhi prestasi siswa?
Penelitian
lainnya yang serupa adalah penelitian yang berjudul Penerapan disiplin dalam
menciptakan kondisi belajar yang efektif pada pembelajaran PKn di Madrasah
Tsanawiyah Muhammadiyah Al-Haq Palu oleh Maryam. Dalam penelitiannya
disimpulkan dengan menerapkan disiplin didalam kelas, maka akan tercipta
suasana belajar yang efektif. Namun ada beberapa permasalahan yang belum
diuraikan seperti bagaimana sikap siswa terhadap penerapan displin dalam kelas
dan bagaimana cara merubah pendangan atau pemahaman siswa terhadap kedisiplinan
sehingga siswa menganggap suatu kedisiplinan adalah sebuah hal yang menakutkan?
Lain halnya
dengan penelitian yang dilakukan oleh Iktanius D. Sineri yang judul
penelitiannya Persepsi Siswa tentang Kebiasaan Mengajar Guru Sejarah di SMA
Negeri 1 Palu. Dalam penelitiannya, masalah yang ditemukan adalah perbedaan
gaya mengajar guru dan cara menarik perhatian siswa dalam belajar. Dijelaskan
dalam penelitiannya banyak siswa yang jenuh dengan gurunya karena cara
mengajarnya bersifat monoton, siswa lebih tertarik dengan guru yang mengajarnya
bervariasi sehinggga siswa tidak mudah jenuh. Dijelaskan juga kebiasaan
mengajar guru terbagi atas kebiasaan dalam penyajian materi, pemberian
penguatan, pemberian tugas, pengelolaan kelas, penilaian, pemberian motivasi
dan penerapan disiplin kelas. Sedangkan persepsi siswa terhadap kebiasaan guru
terbagi 2 yaitu persepsi yang bersifat positif dan persepsi yang bersifat perlu
pembenahan dan pengembangan dalam pembelajaran.
Penelitian
serupa dengan penelitian oleh Iktanius D. Sineri, Ari Fardiansyah dalam
penelitiannya yang berjudul Kemampuan Guru PKn dalam Mengelola Pembelajaran di
SMP Wilayah Kecamatan Bolanu Lambunu, dijelaskan dalam penelitiannya Kemampuan
guru dalam mengembangkan pengelolaan pembelajaran di SMP Negeri 1 Bolano
Lambunu secara Konsep dan pelaksanaanya sudah memenuhi syarat standar
kualifikasi akademik dan kompetensi guru. Namun
ada berbagai kendala dalam pengelolaan pembelajaran dikelas seperti
kurangnya penguasaan materi, tidak tersedianya buku panduan, penjadwalan
mengajar kurang tepat, minimnya pengalaman mengajar dan kurang tersedianya
fasilitas atau media belajar. Namun ada permasalahan yang belum dijelaskan
dalam penelitiannya yaitu bagaimana sikap dan tanggapan siswa terhadap guru
dalam mengelola kelas dengan tujuan untuk menciptakan suasana yang kondusif
dalam pembelajaran dikelas? Apakah siswa menerimanya dengan sikap positif atau
malah sebaliknya?
Berdasarkan
permasalahan dari penelitian – penelitian yang telah dilakukan, maka kesimpulan
yang dapat diambil oleh penulis adalah bahwa anak dalam menjalani sebuah proses
pendidikan tentunya banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti faktor
lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, lingkungan sekolah dan sebagainya.
Seorang guru sebagai pendidik dan pembimbing tentunya harus memiliki kemampuan
yang luar biasa dalam mendidik seorang anak yang masih butuh untuk proses
perkembangan jiwa dan raganya, khususnya untuk proses pendidikan. Berbagai
teknik pengelolaan kelas harus dimiliki oleh setiap guru guna mencapai tujuan
pembelajaran yang lebih baik. Dalam membangun karakter anak yang lebih baik
seorang guru dapat menerapkan kedisiplinan dalam belajar dan guru harus mampu
merubah pemahaman siswa terhadap kedisiplinan sehingga kedisiplinan dalam
belajar bukanlah menjadi momok yang menakutkan bagi siswa, namun merupakan hal
yang menyenangkan sehingga dengan demikian dapat menciptakan atmosfer
pembelajaran yang efektif dan maksimal.
Dengan
penelitian-penelitian yang telah diuraikan serta ditambah dengan sebuah
kesimpulan, penulis dapat merumuskan berbagai permasalahan yang belum
dijelaskan dalam penelitiannya, adapun
perumusan masalahnya adalah sebagai berikut :
1.
Lingkungan sosial
berpengaruh signifikan terhadap motivasi belajar siswa
2.
Peran guru untuk menciptakan
suasana yang kondusif dalam pembelajaran dikelas sehingga dapat menekan jumlah
ketidakhadiran siswa dalam pembelajaran dikelas
3.
Prestasi Siswa hanya
dipengaruhi oleh jumlah ketidakhadiran Siswa
4.
Cara merubah pemahaman
siswa terhadap penerapan disiplin dikelas
5.
Sikap atau tanggapan
siswa terhadap guru dalam mengelola kelas untuk menciptakan suasana belajar
yang kondusif di dalam kelas
Dari rumusan
masalah, maka perlu adanya pembatasan masalah agar tujuan penelitian yang ingin
diteliti menjadi jelas tujuannya. Permasalahan yang ingin diteliti dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Tingkat
signifikansi antara pengaruh lingkungan sosial ( lingkungan sekolah ) terhadap
motivasi belajar siswa?
1.2
Rumusan
masalah
Berdasarkan
latar belakang yang telah dikemukakan, maka permasalahan yang ada dapat
dirumuskan adalah : “apakah lingkungan sosial berpengaruh signifikan terhadap
motivasi belajar siswa pada pembelajaran IPS Geografi di SMA Negeri 2 Palu? “
1.3
Tujuan
penelitian
Dengan memperhatikan rumusan masalah, maka tujuan
dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh signifikan lingkungan
sosial terhadap motivasi belajar siswa dalam pembelajaran IPS Geografi di SMA
Negeri 2 Palu
1.4
Manfaat penelitian
1. Bagi
Sekolah, dalam hal ini untuk mengambil kebijakan sebagai bahan masukkan dan
pertimbangan dalam pengambilan keputusan dalam rangka menciptakan atmosfer yang
dapat mendukung proses pembelajaran Geografi di Lingkungan SMA Negeri 2 Palu
2. Bagi
Guru, dalam hal ini sebagai pendidik diharapkan untuk lebih tegas dan disiplin
terhadap anak didiknya dalam rangka mencapai tujuan utama pendidikan yaitu
mendidik dan membimbing
3. Bagi
Siswa, dalam hal ini sebagai orang yang dalam proses pembelajaran diharapkan
untuk lebih menaati aturan yang ada disekolah dan lebih menghormati guru
disekolahnya dalam rangka menuju pendewasaan dalam berfikir, dewasa dalam
bertindak dan dewasa dalam bertutur kata.
4. Bagi
peneliti, dalam hal ini adalah agar menjadi lebih peka terhadap pemasalahan
sosial terutama pada aspek lingkungan sekolah sehingga sekiranya dapat membantu
dalam menyelesaikan permasalahan mengenai lingkungan sosial di SMA Negeri 2
Palu
Ruang lingkup penelitian
Berdasarkan
rumusan masalah yang telah disebutkan, maka diperlukan pembatasan ruang lingkup
penelitian agar penelitian ini menjadi jelas dan terarah. Adapun pembatasan
masalah mengenai pengaruh lingkungan sosial terhadap motivasi belajar siswa
adalah sebagai berikut :
a) Lingkungan
sosial dalam penelitian ini ruang lingkupnya dibatasi pada lingkungan sekitar
sekolah yang mempengaruhi motivasi belajar siswa
b) Motivasi
belajar siswa dalam penelitian ini ruang lingkupnya dibatasi pada proses
pembelajaran siswa selama mengikuti pelajaran IPS Geografi ( keantusiasan siswa
dalam pembelajaran )
1.5.
Batasan
Istilah
Untuk menghindari kesalahpahaman dalam menafsirkan
istilah-istilah yang ada pada penelitian ini maka dibutuhkan definisi
operasional sebagi berikut :
Lingkungan
sosial adalah suatu tempat atau wadah yang didalamnya terjadi kegiatan
interaksi antara manusia dengan manusia.
Motivasi adalah dorongan seseorang untuk melakukan
sesuatu yang tujuannya untuk mencapai sesuatu, motivasi berasal dari 2 faktor
yaitu Internal ( dari dalam diri seseorang ) dan eksternal ( dari luar diri
seseorang )
BAB
II
KAJIAN PUSTAKA,
KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS
2.1. Penelitian yang Relevan
Penelitian
1.
Judul
Penelitian : Pengaruh Kehadiran Siswa Dalam
Kelas Terhadap Tingkat Prestasi BelajarPKn di SMP 6 Katolik Santo Paulus Palu
Penulis : Ni
Made Kariasih ( A 321 06 016 ) skripsi tahun 2010
Permasalahan
Penelitian : Mengenai Kehadiran Siswa dikelas,
kehadiran merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi prestasi siswa, apabila
siswa tidak hadir dalam proses pembelajaran, maka siswa akan ketinggalan
pelajaran sehingga berdampak kepada perkembangan prestasi belajarnya, disamping
itu kehadiran siswa bisa merupakan gambaran tentang kedisiplinan dan ketertiban
sekolah. Yang ingin diteliti adalah adakah atau benarkah ada pengaruh antara
kehadirann siswa didalam kelas terhadap tingkat prestasi siswa?
Permasalahan
yang belum terselesaikan berdasarkan penelitian ini adalah
:
1). apakah atau bagaimana peranan guru dalam membuat
suasana yang kondusif dalam pembelajaran dikelas sehingga dapat menekan atau
mengurangi jumlah ketidakhadiran siswa dalam kelas? Artinys belum adanya
peranan guru yang optimal/belum ada cara yang optimal dalam pengelolaan
kedisiplinan dalam kegiatan pembelajaran dikelas.
2).
Apakah prestasi siswa dalam pembelajaran hanya dipengaruhi oleh jumlah
kehadiran siswa? atau ada faktor lain yang dapat mempengaruhi prestasi siswa
dalam pembelajaran?
Kesimpulan
Penelitian :
1).
Kehadiran Siswa dalam Proses Pembelajaran sangat memberikan Pengaruh Positif
terhadap Prestasi Belajar Siswa, sedangkan ketidakhadiran siswa dala proses
pembelajaran memberikan pengaruh negatif terhadap prestasi pembelajaran
dikelas.
2). Guru dapat meningkatkan kehadiran siswa dalam
kelas dengan melakukan beberapa upaya seperti teguran dan melakukan bimbingan
maupun pembinaan dan hukuman dengan diperketat dengan aturan-aturan yang
berlaku disekolah.
Penelitian
2.
Judul
Penelitian : Peranan Orang Tua Dalam
Membangkitkan Motivasi Belajar Anak di Kelurahan Ulunambo Kecamatan Menui
Kepulauan
Penulis
: Asgaf
Nado ( A 311 00 011 ) skripsi tahun 2007
Permasalahan
Penelitian : mengenai pentingnya peranan orang
tua dalam membangkitkan motivasi belajar anak, dimana orang tua adalah sebagai
fasilitator anak dan sebagai dinamisator anak dalam menumbuhkan motivasi dalam
pembelajaran.
Permasalahan
yang belum terselesaikan berdasarkan penelitian ini adalah: 1).
bagaimana sikap anak dalam menerima peran orang tua sebagai motivator belajar?
2). Apakah dengan motivasi belajar
dari orang tua terhadap anak dirumah mempengaruhi motivasi belajarnya di
sekolah? ( dikarenakan banyak yang mempengaruhi motivasi belajar disekolah,
baik pengaruh teman sekelas, maupun dari sikap menerima anak terhadap guru mata
pelajarannya)
Kesimpulan Penelitian :
. Orangtua anak di Kelurahan Ulunambo
Kecamatan Menui Kepulauan telah mampu menumbuhkan motivasi belajar terhadap
anak. Para orang tua akan berusaha semaksimal mungkin untuk menanamkan
nilai-nilai pendidikan dalam diri anak-anak mereka. Berbagai jenis motivasi
dilakukan orang tua dengan berbagai cara seperti member perhatian, uang dan
hadiah.
Penelitian
3
Judul
Penelitian : Persepsi Siswa Terhadap Kebiasaan
Mengajar Guru Sejarah di SMA Negeri 1 Palu
Penulis :
Iknatius D. Sineri ( A 311 98 031 ) Skripsi tahun 2008
Permasalahan
Penelitian : mengenai
perbedaan cara mengajar serta kebiasaan mengajar guru dalam kelas, berbagai
perbedaan guru dalam mengajar di kelas merupakan salah satu faktor yang dapat
mempengaruhi proses pembelajaran dikelas, banyak guru yang mengajar dikelas
hanya dengan menggunakan 1 gaya mengajar, hal ini tetntu membuat rasa jenuh
kepada siswa karena gurunya mengajar hanya dengan metode itu saja ( monoton ).
Namun apabila guru memiliki berbagai cara mengajar ( variatif) mungkin siswa
lebih tertarik mengikuti pelajaran dikelas. Lain halnya dengan kebiasaan guru,
ada guru yang biasanya setelah memberikan tugas individu atau ulangan harian,
ketepatan dan kecepatan waktu dalam memeriksa ada yang cepat ada juga yang
lambat. Hal ini tentu mempengaruhi dalam proses pembelajaran. Hal ini
mencerminkan bahwa gur tersebut siap untuk mengajar atau tidak siap.
Permasalahn
yang belum terselesaikan adalah belum dijelaskannya upaya yang optimal
dari pihak sekolah terhadap kebiasaan
guru dalam mengajar dikelas.
Kesimpulan
Penelitian :
1)..kebiasaan mengajar guru terdiri atas kebiasaan dalam penyajian
materi, pengelolaan kelas, pemberian penguatan, penilaian, pemberian motivasi
dan kedisiplinan.
2).
Persepsi siswa terhadap kebiasaan guru mengajar menjadi 2, yaitu persepsi yang
berkaitan dengan aspek positif dan persepsi dengan aspek yang masih perlu
dibenahi dan dikembangkan.
Penelitian
4
Judul
Penelitian : Pengembangan
Kemampuan Guru PKn dalam Mengelola Pembelajaran di SMP Wilayah Kecamatan Bolano
Lambunu
Penulis : Ari
Fardiansyah ( A 321 06 027 ) skripsi tahun 2011
Permasalahan
Penelitian :yang
ingin diteliti bagaimana kemampuan guru dalam mengelola kelas dalam proses
pembelajaran, guru merupakan fasilitator dan mediator dalam proses pembelajaran
dikelas. Guru harus seefisien mungkin dan sekreatif mungkin dalam mengelola
pembelajaran dikelas sehingga dapat mempengaruhi motivasi belajar siswa.
Permasalahan
yang belum diuraikan dalam penelitian ini adalah
bagaimana sikap dan tanggapan siswa terhadap guru dalam mengelola kelas dengan
tujuan untuk menciptakan suasana yang kondusif dalam pembelajaran dikelas?
Apakah siswa menerimanya dengan sikap positif atau malah sebaliknya?
Kesimpulan Penelitian :
Kemampuan guru dalam mengembangkan
pengelolaan pembelajaran di SMP Negeri 1 Bolano Lambunu secara Konsep dan
pelaksanaanya sudah memenuhi syarat standar kualifikasi akademik dan kompetensi
guru. Namun ada berbagai kendala dalam
pengelolaan pembelajaran dikelas seperti kurangnya penguasaan materi, tidak
tersedianya buku panduan, penjadwalan mengajar kurang tepat, minimnya
pengalaman mengajar dan kurang tersedianya fasilitas atau media belajar.
Penelitian 5
Judul
Penelitian : Penerapan disiplin dalam menciptakan
kondisi belajar efektif pada pembelajaran PKn di Madrasah Tsanawiyah
Muhammadiyah Al-Haq Palu
Penulis
: Maryam
( A 321 06 044 ) skripsi tahun 2011
Permasalahan
Penelitian : yang
ingin diteliti dalam penelitian ini adalah sejauh mana penerapan disiplin yang
dilakukan oleh guru dalam menciptakan kondisi belajar yang efektif dalam kelas.
Kedisiplinan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan
seseorang dalam melaksanakan tugas. Sebagai contoh saja, seorang siswa yang
disiplin dalam belajar, disiplin dalam waktu dan disiplin dalam mengemban tugas
sebagai generasi penerus bangsa pastinya siswa tersebut akan berhasil.
Sebaliknya bila seorang siswa itu tidak disiplin dalam segala hal, maka siswa
itu tidak akan menjadi orang yang berhasil. Kebanyakan siswa memahami
kedisiplinan dalam belajar dikelas itu adalah sebuat hukuman, atau merupakan
tekanan yang berat yang diberikan oleh guru didalam kelas sehingga masih banyak
siswa yang tidak mematuhi aturan dan tata tertib. Hal ini membuat siswa tidak
memperhatikan pelajaran yang diberikan oleh gurunya ( karena siswa merasa
tertekan dengan aturan-aturan )
Permasalahan
yang belum terselesaikan adalah dalam penelitian
ini, penulis hanya menjelaskan tentang penerapan disiplin dalam kelas untuk
menciptakan suasana belajar yang efektif, penulis belum menjelaskan bagaimana
cara merubah pandangan siswa terhadap pemahamannya tentang kedisiplinan
sehingga bagi siswa penerapan disiplin bukanlah hal yang menakutkan namun
merupakan hal yang membuat siswa itu berhasil dalam pembelajaran?.
Kesimpulan
Penelitian : penerapan dispilin dikelas oleh
guru di Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Al-Haq Palu dapat menciptakan kondisi
belajar yang efektif.
Penelitian
6
Judul
Penelitian : Pengaruh
Lingkungan Sosial Terhadap Minat Belajar Siswa SMP Di RW 6 Bamba Kelurahan
Panau Kecamatan Palu Utara
Penulis : Marlina
Mohammad ( A 311 99 021 ) skripsi tahun 2005
Permasalahan
Penelitian : yang ingin
diteliti dalam penelitian ini adalah mengenai adakah pengaruh yang signifikan antara lingkunagn
sosial dalam hal ini adalah lingkungan keluarga terhadap minat belajar siswa
SMP di RW 6 Bamba Kelurahan Panau Kecamatan Palu Utara.
Permasalahan
yang belum terselesaikan adalah dalam
penelitian ini penulis hanya mengkaji dari sisi lingkungan keluarganya terhadap
minat belajarnya saja. Penulis belum mengkaji dari segi lingkungan masyarakat
dan lingkungan sekolahnya.
Kesimpulan
Penelitian : Lingkungan sosial memberikan
pengaruh yang besar terhadap pendidikan. Pengaruh tersebutada yang bersifat
positif ada juga yang bersifat negatif.
2.2. Kajian
Pustaka
2.2.1. Hakikat Lingkungan Sosial
Menurut Eka Yunita (2011 : 2 )
lingkungan sosial adalah hubungan interaksi antara masyarakat dengan
lingkungannya. Lebih lanjut Eka Yunita dalam artikelnya membagi lingkungan
sosial yang menurutnya dibedakan menjadi 2 macam yaitu :Pertama lingkungan sosial primer,lingkungan sosial primer adalah
yaitu lingkungan sosial dimana terdapat hubungan erat antara satu anggota
dengan anggota lain, anggota satu saling kenal mengenal dengan baik dengan
anggota lain Kedua lingkungan sosial
sekunder, lingkungan sosial sekunder yaitu lingkungan sosial dimana hubungan
antara anggota yang satu dengan anggota yang lain agak renggang.
(sumber :
eka-yunita.blogspot.com diakses tanggal 1 Juni 2013 )
Definisi
yang sama mengenai lingkungan sosial oleh Muhammad Addin Rizaldi (2012 : 1 )
bahwa lingkungan sosial adalah lingkungan antar manusia yang meliputi pola-pola hubungan manusia
serta kaidah pendukungnya yang berlaku dalam suatu lingkungan spasial (
keruangan ) yang mana ruang lingkupnyaditentukan oleh keberlakuan pola-pola
hubungan sosial tersebut ( termasuk perilaku manusia didalamnya ), dan oleh
tingkat rasa integrasi mereka yang berada didalamnya.
(sumber :
muhammadaddin18.blogspot.com diakses tanggal 1 Juni 2013 )
Lingkungan sosial adalah suatu
lingkungan yang didalamnya terdapat terdapat interaksi antar individu
dengan individu, individu dengan
kelompok dan kelompok dengan kelompok dalam satu keruangan ( spasial ) dengan
mengikuti kaidah-kaidah yang berlaku dalam adat istiadat masyarakat terkait.
2.2.2
Hakekat Motivasi
Motivasi
adalah proses yang menjelaskan intensitas arah dan ketekunan seorang individu
untuk mencapai suatu tujuan. Tiga elemen utama dalam motivasi adalah
intensitas, arah dan ketekunan.
Berdasarkan
teori hierarki kebutuhan yang dikemukakan oleh Abraham Maslow dan berdasarkan
teori x dan y yang dikemukakan oleh Douglas McGregor maupun teori motivasi
kontemporer, menyebutkan bahwa motivasi adalah alas an yang mendasari sebuah
perbuatan yang dilakukan oleh seorang individu. Seseorang dikatakan mempunyai motivasi
yang tinggi dapat diartikan orang tersebut memiliki alasan yang kuat untuk
mencapai apa yang diinginkannya dengan mengerjakan pekerjaannya yang sekarang.
Lain
halnya dengan pendapat yang berkembang dimasyarakat mengenai arti dari motivasi
itu sendiri. Motivasi menurut pendapat yang berkembang dari masyarakat
diartikan sebagai suatu semangat. Oleh karena itu perlu dipahami bahwa ada
perbedaan dalam penggunaan istilah motivasi di masyarakat. ( sumber :
id.wikipedia.org/wiki/motivasi, tanggal akses 19 Mei 2013 )
Pengertian
motivasi sendiri menurut beberapa ahli berbeda dengan pengertian secara umum. Menurut
Sumadi Suryabrata( 2005 : 71 ) dalam buku “Psikologi Anak Didik “ motivasi
adalah keadaan yang terdapat dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan
aktivitas tertentu guna pencapaian suatu tujuan. Sementara itu Gates dan
kawan-kawan mengemukakan bahwa motivasi adalah suatu kondisi yang mengatur
tindakannya dengan cara tertentu. Adapun Greenberg menyebutkan bahwa motivasi
adalah proses membangkitkan, mengarahkan dan memantapkan perilaku kearah suatu
tujuan. Menurut Mulyasa (2003 :112) motivasi adalah tenaga pendorong atau
penarik yang menyebabkan adanya perubahan tingkah laku kearah tertentu dengan
tujuan yang tertentu. Seorang siswa akan
bersungguh-sungguh dalam proses pembelajaran bila ia memiliki motivasi belajar
yang sangat tinggi.
Demikian
juga menurut pendapat Dimyati dan Mudjiono ( 2002 : 80 ) yang mengutip pendapat
Koeswara yang menyebutkan bahwa siswa belajar karena didorong oleh kekuatan
mental yang berupa keinginan dan perhatian, kemauan serta cita-cita yang ingin
diraih oleh seseorang sehingga timbuah keinginan yang mengaktifkan,
menggerakan, menyalurkan dan mengarahkan sikap dan perilaku individu dalam
belajar. Jadi dapat disimpulkan bahwa
motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak didalam diri siswa yang
menimbulkan kegiatan belajar serta memberikan arahan pada kegiatan belajar
sehingga tujuan yang dikehendaki dapat tercapai. Dalam motivasi belajar,
dorongan adalah kekuatan mental untuk melakukan kegiatan dalam rangka pemenuhan
harapan dan dorongan dalam artian adalah pencapaian tujuan.
a). Fungsi Motivasi Motivasi
diperlukan dalam menentukan intensitas usaha belajar bagi pata siswa. Motivasi
dapat dijadikan tolak ukur seseorang untuk mencapai suatu tujuan tertentu Menurut Djamarah ada 3 fungsi motivasi yaitu
:
1. Motivasi
sebagai pendorong perbuatan. Motivasi berfungsi sebagai pendorong untuk
mengetahui sikap apa yang seharusnya anak didik ambil dalam rangka pembelajaran:
2. Motivasi
sebagai penggerak perbuatan. Dorongan psikologis melahirkan sikap terhadap anak
didik itu merupakan suatu perbuatan yang tak terbendung yang kemudian menjadi
dalam bentuk gerakan psikofisik:
3. Motivasi
sebagai pengarah perbuatan. Anak didik yang mempunyai motivasi dapat menyeleksi
mana perbuatan yang harus dilakukan dan mana yang harus diabaikan.
b). Jenis Motivasi Menurut
Dimyati dan Mudjiono motivasi adalah kekuatan mental individu yang memiliki 2
jenis tingkat kekuatan yaitu :
1.
Motivasi Primer
Motivasi primer
adalah motivasi yang didasarkan pada motif-motif dasar, motif dasar tesebut
berasal dari aspek biologis atau jasmani manusia. Dimyati mengutip pendapat
Mc.Dougal bahwa tingkah laku terdiri
dari pemikiran tentang tujuan danperasaan subjektif dan dorongan mencapai
kepuasan seperti mencari makan, rasa ingin tahu dan sebagainya
2. Motivasi
Sekunder
Motivasi
sekunder adalah motivasi yang dipelajari, motif
motivasi ini dikaitkan dengan lingkungan sosial, sikap dan emosi dalam
belajar terkait komponen penting seperti afektif, kognitif dan psikomotor
sehingga motivasi primer dan sekunder sangat penting bagi siswa dalam usaha
pencapaian prestasi belajar.
c).
Sifat Motivasi
Dalam
menumbuhkan motivasi belajar, tidak hanya timbul dari dalam diri siswa saja
tetapi juga berasal dari luar diri siswa. Dimyati dan Mudjiono ( 2002 :90 )
membagi 2 sifat motivasi yaitu :
1. Motivasi
Intrinsik
Motivasi
intrinsik adalah motivasi yang timbul dari dalam diri pribadi individu itu
sendiri tanpa adanya pengaruh luar dari individu. Contohnya seorang siswa
berkeinginan untuk menjadi juara umum di sekolahnya sehingga ia termotivasi
untuk belajar dengan giat.
2. Motivasi
Ekstrinsik
Motivasi
ekstrinsik adalah dorongan terhadap perilaku seseorang yang ada diluar
perbuatan yang dilakukannya. Dalam hal ini seseorang mendapatkan pengaruh dari
luar pribadi dirinya sendiri. Contohnya seorang siswa bercita- cita menjadi
juara karena diiming-imingi dengan hadiah bila ia menjadi juara.
Motivasi
intrinsik dan motivasi ekstrinsik sangat penting bagi siswa dalam proses
belajar, dengan timbulnya motivasi intrinsic dapat menumbuhkan semangat belajar
yang tinggi. Motivasi ektrinsik dapat berubah menjadi motivasi intrinsik ketika
ada keinginan yang kuat dari dalam diri. Contoh seorang siswa giat belajar
karena ingin meraih cita- citanya, bukan karena diiming-imingi oleh hadiah. (
Sumber : www.sarjanaku.com/home/pendidikan/pengertianmotivasimenurutparaahli.htm,
diakses tanggal 19 Mei 2013 )
Slameta
dalam bukunya “ Belajar dan faktor- faktor yang mempengaruhinya “ mengemukakan
motivasi belajar siswa dapat dibangkitkan dengan cara sebagai berikut :
1. Pergunakan
pujian yang verbal, penerimaan sosial yang mengikuti suatu tingkah laku yang
diinginkan dapat menjadi alat yang cukup dapat dipercaya untuk mengubah
prestasi dan tingkah laku akademis kearah yang diinginkan. Kata-kata seperti
“bagus”, “baik” yang diucapkan segera setelah siswa melakukan tingkah laku yang
diinginkan, merupakan suatu motivasi belajar yang besar. Hal ini membuat siswa
untuk lebih aktif dan antusias dalam pembelajaran.
2. Pergunakan
tes dalam nilai secara bijaksana
Kenyataan bahwa
tes dan nilai dipakai sebagai dasar berbagai hadiah sosial, ( seperti
penerimaan lingkungan, promosi, pekerjaan yang baik, uang yang lebih banyak dan
sebagainya) menyebabkan tes dan nilai dapat menjadi suatu kekuatan untuk
memotivasi siswa. Tapi tes dan nilai harus dipakai secara bijaksana, yaitu
untuk memberikan informasi pada siswa dan untuk menilai penguasaan dan kemajuan
siswa, bukan untuk menghukum atau membandingkan dengan siswa yang lain.
3. Bangkitkan
rasa ingin tahu siswa dan keinginan siswa untuk bereksplorasi. Dengan
melontarkan masalah-masalah , pengajar dapat memunculkan suatu konflik
konseptual yang merangsang siswa untuk bekerja dalam hal ini berpikir kritis
terhadap permasalahan yang ada.
4. Untuk
mendapatkan perhatian dari siswanya, sekali-kali pengajar melakukan hal-hal
yang dianggap menarik oleh siswanya, sehingga dapat memotivasi siswa dalam
belajar. Hal-hal yang dapat dilakukan seperti memberikan kesempatan siswa untuk
menyusun soal-soal yang terkait dengan materi, menceritakan permasalahan yang
berkaitan dengan materi dan sebagainya.
5. Merangsang
hasrat siswa dengan jalan memberikan suatu hadiah yang akan diterima siswa bila
siswa tersebut dapat menmberikan jawaban ataupun solusi dari permasalahan yang
ada
6. Agar
siswa lebih mudah memahami bahan pengajaran, pergunakan materi-materi yang
sudah dikenal siswa yang digunakan sebagai contoh model.
7. Terapkan
konsep-konsep atau prinsip-prinsip dalam konteks yang unik dan luar biasa agar
siswa lebih terlibat dalam pembelajaran
8. Sarankan
siswa untuk menghubungkan hal-hal yang sudah dipelajarinya terhadap pelajaran
yang sedang dipelajarinya. Tujuannya adalah untuk menguatkan daya konsep
pelajaran sehingga siswa tidak mudah lupa terhadap materi yang diajarkan dan
daya pikir siswa dapat lebih terkembang
9. Pergunakan
simulasi atau permainan pada materi yang terkait, kedua hal ini dapat
memaksimalkan penyerapan tentang materi oleh siswa.
3.
Pengaruh
Lingkungan Sosial terhadap Motivasi Belajar
Umumnya lingkungan sosial yang
mempengaruhi motivasi belajar siswa adalah sebagai berikut :
a).Lingkungan
sosial dalam keluarga
Lingkungan sosial dalam keluarga adalah
faktor utama dalam penumbuhan motivasi siswa dalam belajar. Keluarga merupakan
wadah sosialisasi yang pertama bagi seorang anak sebelum berinteraksi dengan
lingkungan diluar yang lebih luas. Undang- undang sistem pendidikan nasional
pasal 10 ayat 4 yang berbunyi : “Pendidikan keluarga merupakan bagian dari
jalur pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan dalam keluarga yang
memberikan keyakinan agama, nilai budaya, nilai norma dan ketrampilan. “
Suasana yang kondusif dalam lingkungan
keluarga dapat menumbuhkan motivasi dan minat belajar seseorang yang sangat
berpengaruh terhadap peningkatan prestasi belajar. Sebaliknya bila suasana
dalam keluarga tidak kondusif seperti adanya broken home dalam keluarga sangat mempengaruhi semangat belajarnya
dan dapat menurunkan prestasi belajarnya disekolah. ( Sumber : Paul Rumondor,
2005, pengaruh pola asuh orang tua terhadap prestasi anak )
Motivasi orang tua terhadap anaknya
menjadi salah satu faktor utama sebagai pendorong semangat belajar khususnya
IPS Geografi. Orang tua merupakan salah
satu unsur yang sangat dekat dengan anak ketika mereka berada di luar jam
sekolah. Peranan orang tua sangat menentukan dalam membangkitkan minat belajar
siswa. Kemajuan dan kemunduran prestasi siswa ditentukan oleh kemampuan orang
tua siswa dirumah dalam memberekian informasi mengenai mata pelajaran khususnya
IPS Geografi, pemenuhan kebutuhan di sekolah dan yang paling utama adalah
membimbing anaknya belajar di rumah.
Namun pada kenyataannya tidak semua
orang tua dapat menjalankan fungsinya sebagaimana yang diharapkan. Ada orang
tua yang karena kesibukannya masing- masing lupa akan tugasnya sebagai
pembimbing anaknya di rumah, kurangnya perhatian orang tua untuk mempersiapkan
kebutuhan belajar anaknya ditambah lagi penerapan pola asuh anak dalam keluarga berdampak pada proses pembelajaran
di sekolahnya.
Dalam realita itu orang tua memiliki
kewajiban untuk menciptakan suasana yang nyaman di dalam rumah sehingga anak
merasa senang dan betah berada di rumah. Karena keberhasilan belajar siswa
ditentukan oleh keharmonisan dalam keluarga.
b).
Lingkungan Sosial dalam pergaulan
Lingkungan bergaul anak merupakan faktor
kedua terhadap motivasi belajar siswa di sekolah. Lingkungan pergaulan sangat
mempengaruhi kesiapan mental dan fisik seseorang terhadap proses belajarnya
disekolah. Dalam bergaul, seorang siswa
harus memilih teman yang tepat untuk diajak bergaul. Alasannya sederhana,
apabila siswa memilih teman yang baik, rajin belajar, maka sifat temannya
tersebut akan menular keteman lainnya juga sebaliknya bila seorang siswa
tersebut memilih teman yang kurang baik, gemar mabuk, kehidupannya selalu foya-
foya maka sifat buruk tersebut secara otomatis menular ke teman lainnya juga
sehingga berpengaruh terhadap proses belajar di sekolahnya.
Hal demikian terjadi karena adanya
ikatan yang kuat antar teman seperti kata peribahasa bijak mengatakan bila
seseorang menaburkan minyak wangi di tubuhnya maka aromanya akan mengenai tubuh
kita sehingga tubuh kita juga akan ikut wangi. Untuk menghindari dampak negatif
dari lingkungan pergaulan ada baiknya orang tua berperan dalam membantu anak
dalam memilih teman, menasihati cara memilih teman yang baik.
Memanglah peran orang tua sangat penting
bagi anaknya ketika dalam anaknya bergaul dengan orang lain, namun hal ini
tidak berguna bila didalam keluarga anak itu sendiri mengalami masalah orang
tua ( broken home) sehingga anak
lebih mendengarkan kata temannya.
Tidak sedikitpun orang tua yang memberi
peran tersebut kepada sekolah anaknya. Ini menggambarkan seolah-olah kewajiban
sebagai orang tua selesai ketika anaknya berada disekolah. Padahal dari sisi
waktu saja anak berada di sekolah hanya berkisar 8 jam, sedangkan sisanya
merupakan tanggung jawab orang tua.memang tidak adil kedengarannya bila semua
tanggung jawab tersebut dibebankan kepada sekolah.
(sumber
: http//.anneahira.com/pengaruh lingkunagn sosial terhadap prsetasi
belajar/html, tanggal akses 2 Maret 2013 ).
c). Lingkungan Sekolah
Lingkungan sekolah adalah lingkungan
yang paling mempengaruhi prestasi dan minat belajar siswa khusunya untuk mata
pelajaran IPS Geografi. Baiknya pemilihan sekolah oleh anak juga mendukung
motivasi belajar siswa. Adanya guru atau tenaga pengajar yang bagus sangat
mendorong minat anak untuk belajar di sekolah atau adanya fasilitas sekolah
yang begitu lengkap juga mempengaruhi motivasi belajar.. Karena itulah dalam
pemilihan sekolah harus berhati- hati jangan memilih sekolah hanya karena
gedungnya mewah, strategis tempatnya, dekat dari rumah atau berbagai alasan
lainnya, namun pilihlah sekolah yang benar- benar membuat siswa merasa betah,
nyaman, damai dan tentram dalam belajar sehingga memberi dampak positif bagi
siswa.
(sumber
: http//.anneahira.com/pengaruh lingkungan sosial terhadap prsetasi
belajar/html, tanggal akses 2 Maret 2013 ).
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan
agar lingkungan sekolah memberikan dampak positif terhadap peningkatan belajar
antara lain sebagai berikut :
1).
Fasilitas yang lengkap dan berkualitas tentu dapat meningkatkan semangat dan
minat belajar siswa di sekolah khususnya mata pelajaran geografi. Mata
pelajaran geografi memang menuntut adanya fasilitas lengkap mengenai ilmu bumi,
seperti aplikasi arcgis 10 yang
digunakan untuk memetakan suatu wilayah dengan memperhatikan koordinat, atau
adanya alat pengukur cuaca, globe, peta, atlas dan berbagai fasilitas lainnya.
2).
Adanya teman yang rajin atau yang memiliki prestasi bagus yang tentunya mendorong siswa untuk lebih giat belajar agar
bisa melebihi teman- temannya
3).
Sekolah yang baik memiliki guru- guru yang berkualitas, baik dari cara
mengajarnya, cara penampilannya, kesopanannya atau cara mereka mengarahkan
siswanya kearah yang baik.
2.3
Kerangka Pemikiran
Kerangka Pemikiran
menurut Dr. H. Ahmad Ramadhan, M.Kes dalam Panduan Penyusunan Tugas Akhir FKIP
UNTAD ( 2013 : 3 ) merupakan alur pemikiran guna memecahkan masalah yang
diteliti tersebut.
Penelitian Pengaruh Lingkungan Sosial terhadap motivasi
belajar siswa dalam pembelajaran IPS Geografi di SMA Negeri 2 Palu diawali
dengan observasi awal untuk mengidentifikasi permasalahan yang ada dilokasi
penelitian. Setelah melakukan observasi, peneliti melakukan wawancara terhadap
beberapa narasumber. Kemudian untuk lebih memahami permasalahan, peneliti
melakukan kajian pustaka yang berhubungan dengan permesalahan yang ada. Kajian
pustaka yang dilakukan adalah mencari referensi yang relevan yang mendukung
topik permasalahan penelitian. Dari berbagai referensi yang relevan baik dari
perpustakaan ataupun internet, hipotesis
penelitian dapat dirumuskan berdasarkan
rumusan masalah. Namun untuk menguji hipotesis, dilakukan berbagai
metode-metode penelitian ,metode yang digunakan adalah metode hubungan kausal
yaitu metode yang mencari hubungan variabel X dengan variabel Y. Teknik
pengumpulan data yang digunakan ada 4 teknik yaitu observasi, wawancara, angket
dan dokumentasi. Setelah itu dilakukan analisis data secara inferensial untuk
menguji validitas data dan menguji koefisien korelasi sehingga pada tahap akhir
diperoleh hasil. Berdasarkan permasalahan dan kajian pustaka serta metode yang
telah dipaparkan, maka kerangka pikiran perumusan hipotesis adalah sebagai
berikut :
Observasi
Awal untuk mengidentifikasi permasalahan lingkungan sosial terhadap
motivasi belajar
|
Rumusan
Masalah : apakah
lingkungan sosial berpengaruh signifikan terhadap motivasi belajar siswa
dalam pembelajaran IPS Geografi di SMA Negeri 2 Palu? “
|
Hipotesis :
H0 :
Tidak ada pengaruh yang signifikan antara lingkungan sosial terhadap
motivasi belajar siswa dalam pembelajaran IPS Geografi di SMA Negeri 2 Palu
H1 : Ada pengaruh postif yang
signifikan antara lingkungan sosial terhadap motivasi belajar siswa dalam
pembelajaran IPS Geografi di SMA Negeri 2 Palu
|
Metode
Penelitian :Metode Hubungan Kausal
|
Variabel
Bebas : Lingkungan Sosial ( Variabel
X )
|
Variabel
Terikat : Motivasi Belajar ( Variabel Y )
|
Uji
Validitas dan Reabilitas
|
Gambar
1. Skema Alir Kerangka Pikir Penelitian
2.4
. Hipotesis Penelitian
Hipotesis merupakan jawaban atau dugaan sementara
terhadap rumusan masalah penelitian yang diajukan, maka titik tolak untuk
merumuskan hipotesis adalah rumusan masalah dan kerangka berpikir. Untuk
menjawab masalah, maka jawaban sementara yang akan diuji kebenarannya adalah :
H0 :
Tidak ada pengaruh yang signifikan antara lingkungan sosial terhadap motivasi
belajar siswa dalam pembelajaran IPS Geografi di SMA Negeri 2 Palu
H1 :
Ada pengaruh postif yang signifikan antara lingkungan sosial terhadap motivasi
belajar siswa dalam pembelajaran IPS Geografi di SMA Negeri 2 Palu
BAB
III
METODE PENELITIAN
3.1.
Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif.
Tujuan digunakannya metode penelitian kuantitatif di SMA Negeri 2 Palu adalah
untuk mencari sebab-akibat dari permasalahan mengenai pengaruh lingkungan
sosial terhadap motivasi belajar siswa dalam pembelajaran IPS Geografi dengan
mengambil sampel penelitian dari populasi penelitian.
3.2.
Jenis
Metode Penelitian /Rancangan Penelitian
Jenis metode yang digunakan adalah metode hubungan
kausal. Hubungan kausal adalah hubungan yang bersifat sebab akibat antara
variabel X(Independen) dengan variabel Y(Dependen). Dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia, variabel independen adalah variabel yang bebas, artinya variabel ini
mempengaruhi variabel yang lainnya. Sedangkan variabel dependen adalah variabel
yang terikat karena variabel ini berubah dan muncul tergantung variabel yang
lainnya.
3.3.
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini
dilakukan di SMA Negeri 2 Palu Kelurahan Lolu Selatan Kec. Palu Selatan dengan
luas sekolah ± 3000M². letak geografis Kelurahan Lolu Selatan adalah sebagai
berikut :
Sebelah Utara : berbatasan dengan Kel. Lolu Utara
Sebelah Timur : berbatasan dengan Kel. Tanamodindi
Sebelah Selatan : berbatasan dengan Kel. Tatura
Sebelah Barat : berbatasan dengan Kec. Palu Barat
Penelitian ini
direncanakan berlangsung dari bulan November sampai Februari 2014. Penelitan
terdiri dari 14 tahapan berdasarkan jenis aktivitasnya dengan tahapan
penelitian sebagai berikut :
1) Pencarian
bahan observasi dan penyusunan proposal
2) Konsultasi
dosen pembimbing
3) Ujian
Proposal
4) Revisi
Proposal
5) Pengurusan
Surat Izin Penelitian
6) Pelaksanaan
Penelitian
7) Pengolahan
dan analisis data penelitian
8) Seminar
Hasil Penelitian
9) Revisi
Hasil Penelitian
10) Penyusunan
Jurnal Ilmiah
11) Bimbingan
Skripsi
12) Pengurusan
surat pelaksanaan ujian skripsi
13) Ujian
Skripsi
14) Revisi
Skripsi
3.3.
Variabel
Penelitian
Penelitian ini bersifat korelasi variabel sehingga
hubungan antara variabel X dengan variabel Y adalah:
Keterangan :
X =
Lingkungan Sosial ( Sekolah )
Y
= Motivasi Belajar
3.5 Populasi Penelitian, Sampel dan Teknik
Pengambilan Sampel
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri
atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang
ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya
(Sugiyono, 2011:117). Populasi dalam penelitian ini sebanyak 51 siswa maka
populasi penelitian yang akan diambil adalah 51 siswa tersebut yang berasal
dari seluruh kelas XI IPS di SMA Negeri 2 Palu sehingga penelitian ini adalah
penelitian populasi.
3,6
Alat dan Bahan ( Instrumen Penelitian )
Instrumen merupakan suatu alat bantu yang digunakan
dalam melakukan penelitian, tujuan dari adanya instrumen ini yaitu untuk
memberi kemudahan kepada peneliti dalam melakukan penelitian. Instrumen yang digunakan dalam
penelitian ini adalah kuesioner. Instrumen penelitian yang digunakan peneliti
saat meneliti di SMA Negeri. 2 Palu adalah berupa angket ( kuisioner ). Angket
digunakan untuk mengungkapkan pengaruh lingkungan sosial dalam sekolah terhadap
motivasi siswa dalam pembelajaran Geografi Setiap kuesioner memiliki item
pertanyaan dengan alternatif pilihan jawaban dan masing–masing memiliki skor
yang berbeda–beda.
3.7
Teknik pengumpulann data
Pengambilan data
atau sumber data dalam penelitian ini dibagi menjadi 2 yaitu pengambilan data
primer dan data sekunder. Data primer adalah data penelitian yang diperoleh
dari data mentah kemudian diolah menjadi sebuag data. Data primer contohnya
adalah data observasi, wawancara, angket atau kuisioner. Sedangkan data
sekunder adalah data yang sudah ada dan sudah menjadi data yang valid yang
berasal dari instansi terkait. Data sekunder contohnya daftar guru, daftar
siswa dan sebagainya.
1) Observasi
Observasi adalah kegiatan awal yang
dilakukan oleh peneliti sebelum melakukan penelitian. Tujuan dari observasi
adalah untuk melihat berbagai fenomena yang ada yang berkaitan dengan bahan
penelitian sehingga peneliti dapat menrumuskan permasalahan yang ada dan dapat
membuat kesimpulan sementara ( Hipotesis ).
2) Wawancara
( interview )
Wawancara
adalah kegiatan saling berinteraksi yang dilakukan antara peneliti dengan objek
penelitian ataupun narasumber lainnya yang berkaitan dengan penelitian yang
bertujuan untuk memperoleh informasi yang akurat ataupun sebagai bahan tambahan
informasi yang ada ( memperjelas informasi permasalahan ). Sifat wawancara
beragam, ada yang terstruktur, bebas dan
kombinasi.
3). Dokumentasi. Dokumentasi
adalah teknik memperoleh informasi melalui bermacam-macam sumber tertulis atau
dokumen yang ada pada responden atau tempat tinggal responden dan
sebagainya. Contoh dokumentasi adalah
foto-foto, surat-surat dan sebagainya.
4). Angket
Angket
adalah suatu alat pengumpul data yang berupa serangkaian pertanyaan yang
diajukan pada responden untuk mendapatkan jawaban. Hal ini dipandang perlu dalam menambah
masukan data yang menunjang dalam penelitian sesuai dengan penelitian yang
dilakukan.
( Sumber Depdikbud:1975, dalam media
informasi.blogspot.com 2012, tanggal akses 21 Mei 2013 ) Sumber data dalam penelitian ini adalah Guru Bidang Studi, Wali
Kelas XI IPS dan seluruh siswa kelas XI IPS untuk dijadikan populasi
penelitian.
3.8
Teknik Analisis data
1). Analisis Inferensial
Analisis inferensial adalah
teknik pengolahan data untuk menarik kesimpulan berdasarkan hasil penelitiannya
pada sejumlah sampel terhadap populasi. Analisis inferensial ini digunakan
untuk menguji hipotesis yang diajukan dengan menggunakan teknik analisis data sebagai
berikut:
·
Uji Validitas dan
Realibilitas
Untuk mengukur
kualitas data, pada setiap pertanyaan yang mewakili masing-masing variabel
dilakukan uji validitas dan realibilitas. Pertanyaan yang dianggap valid (sah)
dan realiabel (andal) dapat digunakan untuk proses analisis data selanjutnya.
Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan program komputer (Software) aplikasi
Statistical Package for Social Science (SPSS) versi 16.0 (SPSS16)
yang dibuat oleh SPSS Inc tahun 1989-2007.
·
Uji Koefisien
Korelasi
Analisis inferensial yang
digunakan untuk menguji hipotesis dengan menggunkaan hipotesis Product
Moment Pearson. Menurut Sugiyono ( 2011: 215) statistik korelasi produk moment
atau biasa disebut korelasi Product
Moment Pearson adalah teknik statistik dalam uji hipotesis bila dalam
hipotesisnya terdapat hubungan antara satu variabel independen ( X ) dengan
satu variabel dependen ( Y ) . Dalam hal
ini variabel independennya adalah Lingkungan Sosial ( sekolah ) dan variabel
dependennya adalah motivasi belajar. Adapun rumus yang digunakan untuk menghitung
koefisien korelasi sebagai berikut:
rxy =
Rumus
1
rxy =
Rumus
2
Keterangan:
rxy = Koefisien Korelasi
N = Jumlah Responden
X = Variabel Lingkungan
Sosial
Y = Variabel Motivasi
Belajar
Rumus
yang pertama digunakan bila hanya ingin menguji hubungan antar 2 variabel saja,
sedangkan rumus yang kedua digunakan bila ingin mengitung sekaligus persamaan
regresinya. Kemudian untuk dapat memberikan
penafsiran terhadap koefisien korelasi yang ditemukan tersebut besar atau
kecil, maka dapat berpedoman pada ketentuan yang tertera pada tabel
berikut :
Tabel 2.
Pedoman
Untuk Memberikan Interpretasi
Terhadap
Koefisien Korelasi
|
Interval
Koefisien
|
Tingkat
Hubungan
|
|
0,00 – 0,199
|
Sangat Rendah
|
|
0,20 – 0,399
|
Rendah
|
|
0,40 – 0,599
|
Sedang
|
|
0,60 – 0,799
|
Kuat
|
|
0,80
– 1,000
|
Sangat
kuat
|
Sumber
: (Sugiyono, 2011 : 257)
DAFTAR
PUSTAKA
Achmad Ramadhan dkk,( 2013), Panduan Tugas Akhir Skripsi dan Artikel
Penelitian, Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tadulako
Anonimus,____ Kamus Besar Bahasa
Indonesia, Jakarta, Depatermen Pendidikan dan Kebudayaan.
Anonimus,
(2013). Daftar Guru Tetap dan Guru Honor
SMA Negeri 2 Palu
Anonimus, (2013). Daftar Siswa SMA Negeri 2 Palu Bulan April
Anonimus, (2013). Motivasi dan teori hierarki[Online] id.wikipedia.org/wiki/motivasi, [19 Mei 2013]
Anneahira.com/pengaruhlingkungansosialterhadappresatsibelajar/html[Online]-[2
Maret 2013]
Djamal,
H, (2008). Psikologi Pendidikan, Jakarta
: PT.Bumi Aksara
Eka Yunita, (2011). Lingkungan Sosial Masyarakat,[Online-html]eka-yunita.blogspot.com [1
Juni 2013]
Fardiansyah, Ari. (2011). Pengembangan Kemampuan Guru PKn dalam
Mengelola Pembelajaran di SMP Wilayah Kecamatan Bolano Lambunu. Skripsi S1
pada FKIP Universitas Tadulako Palu: tidak diterbitkan
Karniasih, Ni Made. ( 2010 ). Pengaruh Kehadiran Siswa Dalam Kelas
Terhadap Tingkat Prestasi BelajarPKn di SMP 6 Katolik Santo Paulus Palu.
Skripsi S1 pada FKIP Universitas Tadulako Palu: tidak diterbitkan
Maryam. (2011). Penerapan
disiplin dalam menciptakan kondisi belajar efektif pada pembelajaran PKn di
Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Al-Haq Palu.Skripsi S1 pada FKIP
Universitas Tadulako Palu: tidak diterbitkan
Mohammad, Marlina. (2005 ). Pengaruh Lingkungan Sosial Terhadap Minat Belajar Siswa SMP Di RW 6
Bamba Kelurahan Panau Kecamatan Palu Utara. Skripsi S1 pada FKIP
Universitas Tadulako Palu: tidak diterbitkan
Muhammad Addin Rizaldi, (2012). Pengertian lingkungan sosial[Online]
muhammadaddin18.blogspot.com [ 1 Juni 2013]
Nado,Asgaf. (2007). Peranan Orang Tua Dalam Membangkitkan Motivasi Belajar Anak di
Kelurahan Ulunambo Kecamatan Menui Kepulauan. Skripsi S1pada FKIP
Universitas Tadulako Palu : tidak diterbitkan
Nuryadil,(
2009). Materi Kuliah Statistika Dasar ,
Palu
Rumondor, Paul, (2005). Studi Kasus Pola Asuh Anak Dalam Keluarga
terhadap Prestasi Belajar Siswa. Skripsi S1 pada FKIP Universitas Tadulako
Palu: tidak diterbitkan
Sineri, Iktanius.D, (2008). Persepsi Siswa Terhadap Kebiasaan Mengajar
Guru Sejarah di SMA Negeri 1 Palu. Skripsi S1 pada FKIP Universitas
Tadulako Palu: tidak diterbitkan
Slameta, (2004). Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, Jakarta : PT.Asdi
Mahasatya
Sugiono, (2011). Metode Penelitian Pendidikan, pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan
Research and Depelopment , Bandung:
Alfabeta,
Usman H.B. dkk, 2005 Universitas
Tadulako , Pedoman Penyusunan Dan
Penilaian Karya Ilmiah
Yasin,
Sanjaya, _____, Pengertian Motivasi
menurut Para Ahli Definisi Fungsi Jenis Sifat Teori Ciri[Online], http://www.sarjanaku.com/2012/04/pengertian-motivasi-menurut-para-ahli.html [19
Mei 2013]
geoarena.blogspot.com